Adalah mutlak sifat yang dimiliki manusia ketika mereka sedang terpuruk atau jatuh, mereka akan merasa putus asa. Atau bahkan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada mereka. Dengan mudahnya mereka menjudge Tuhan tidak sayang dan peduli dengan mereka. Bodohnya mereka yang berpikir seperti itu. Mereka tidak sadar, betapa Tuhan amat sangat sayang pada semua umatnya. Cobaan yang diberikan itulah tandanya. Cobaan itu bukan tanda ketidaksayangan Tuhan pada kita. Cobaan itu diberikan pada kita, karena Tuhan ingin kita menjadi orang yang kuat, sabar, menjalani kehidupan ini. Dan juga tidak pernah lupa untuk berhenti bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan padanya.
Ketika kamu meminta kepada Tuhan keberanian, Tuhan akan memberimu ketakutan. Ketika kamu meminta pada Tuhan kekuatan, Tuhan akan memberimu cobaan. Dan ketika kamu meminta pada Tuhan cinta, Tuhan akan memberimu orang-orang yang membutuhkanmu. Bukan karena Tuhan tidak sayang kepadamu. Dengan ketakutan, kamu akan jadi lebih berani. Dengan cobaan, kamu akan menjadi lebih kuat. Dan dengan adanya orang-orang yang membutuhkan bantuanmu, maka kamu akan dipenuhi cinta orang-orang itu.
Beberapa bulan yang lalu, aku jatuh sakit. Dan harus pergi ke tempat yang paling aku benci. Ya, Rumah Sakit. Kalian tahu, kenapa aku amat sangat benci dengan tempat itu? Karena aku benci aroma obat-obatannya. Dan aku benci suasananya. Disana, kita hanya akan melihat kesedihan. Raut wajah orang-orang yang sedang menahan kesakitan dalam dirinya. Atau tangis orang-orang disampingnya yang harus merelakan orang yang dikasihinya pergi untuk selamanya. Tidak ada kebahagiaan. Suram. Lagipula, beberapa tahun masa kecilku sudah kuhabiskan untuk kujalani disana karena penyakitku sejak lahir.
Tapi kejadian beberapa bulan yang lalu menyadarkanku. Bahwa umur yang singkat, tidak menghalangi seseorang untuk membuat yang lain tersenyum dan tertawa. Meskipun derita yang dialaminya tak pernah bisa kita bayangkan.
Hari itu suhu tubuhku tinggi. Aku hampir tidak sadar. Kemudian kedua orang tuaku memutuskan untuk mebawaku ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dokter memfonisku dengan penyakit **********. Aku begitu terkejut mendengarnya. Akibat terlalu terpengaruh dengan film-film yang biasa aku lihat, aku jadi orang yang amat sensitif, hopeless, selalu mengeluh pada Tuhan. Padahal penyakit ku bisa sembuh asal aku teratur minum obat atau bahkan jika aku mau, aku bisa melakukan operasi kecil dan segalanya beres.
Tapi seperti yang kukatakan tadi, terkadang ketika manusia sedang dalam keadaan terpuruk dia tidak akan bisa berfikir secara jernih. Hingga aku bertemu dengan seseorang. Dia seorang gadis manis yang berhati malaikat. Usianya lebih tua 2 tahun diatasku. Sudah sekitar ± 4 tahun ini dia difonis terkena Leukimia.
Gadis itu sebut saja namanya Amel (nama sengaja disamarkan). Wajahnya yang pucat tidak dapat menyembunyikan parasnya yang cantik dan manis itu. Keceriannya dapat membuat semua orang yang ada di dekatnya seakan tidak merasakan sakit. Tawanya seakan dapat membuat burung-burung ikut tertawa dan bunga-bunga ikut menari. Tak ada guratan sakit sedikitpun yang kiranya dia rasakan.
Dia difonis bahwa umurnya tidak akan lama. Tapi apa yang membuat dia bertahan hingga saat ini? Rasa optimis yang dia miliki dan rasa syukur tak terhingga kepada Tuhan. Dia selalu menikmati sisa hidup yang diberikan Tuhan padanya.
Beberapa kali aku harus ke rumah sakit karena harus check lab, check up, tes darah, dan lain sebagainya. Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan beberapa suster. Mereka sedang membicarakan seseorang. Dan seseorang itu adalah Amel. Mereka kagum pada sosok Amel yang ceria dan bisa membawa kebahagiaan pada pasien lainnya. Tak jarang mereka juga merasa iba dan sedih atas kondisi Amel. Mereka tak henti membicakanannya. Aku jadi penasaran dengan Amel.
Di perjalanan pulang, aku sempat berkeliling sejenak mencari kamar inap anak-anak penyakit akut dan ingin bertemu dengan sosok Amel.
Di depan ruangan itu, aku memutuskan untuk hanya mengintip lewat jendela dan tidak masuk. Dari balik tirai jendela, aku melihat seorang gadis yang tengah bermain tebak-tebakan dengan anak-anak di tengah ruangan yang kecil itu. Terlihat begitu riangnya mereka. Tak ada guratan kesakitan yang dirasakan. Beberapa orang tua yang menemani anak mereka ikut terhanyut dalam kegembiraan yang dibawa Amel sore itu. Sekilas, aku ikut tersenyum melihat suasana itu. Suasana yang tak pernah terpikir olehku akan kutemui di sebuah tempat yang selama ini aku anggap suram karena selalu membawa penderitaan.
Dua minggu kemudian, aku harus kembali lagi ke rumah sakit untuk check up. Aku kembali lagi berniat melihat Amel dan anak-anak itu. Tapi apa yang aku lihat? Ruangan itu sepi. Hanya ada anak-anak dan para orang tua yang mendampingi mereka. Tanpa ada sosok Amel. Aku memutuskan untuk bertanya pada salah satu suster. Suster memberitahuku, bahwa seminggu yang lalu Amel dibawa ke Singapura untuk operasi. Kemudian suster itu pergi.
Dalam diam, aku mulai berpikir. Jika orang yang diberi penderitaan sesakit itu saja masih bisa tertawa dan menebar kebahagiaan di sekelilingnya, kenapa aku yang hanya diberi cobaan seperti ini tidak mau bersyukur? Kenapa aku hanya bisa putus asa dan menyalahkan takdir? Mungkin inilah cara Tuhan memberiku petunjuk. Lewat orang lain. Hingga akhirnya aku mau belajar. Mungkin inilah mukzizat yang diberikan Tuhan untuk Amel. Berkah atas kesabarannya, rasa optimis, dan rasa syukur yang dia miliki. Kebahagiaan yang dia berikan kepada orang lain, menjadikannya mendapat begitu banyak cinta serta doa untuk dirinya dan kesembuhannya.
Kita memang tidak saling mengenal teman. Dan kita memang hanya beberapa kali bertemu. Tapi aku selalu berdoa, semoga Tuhan memberimu kebahagiaan dan kesembuhan. Terima kasih untuk segalanya yang sudah kau ajarkan padaku...
*semoga semua yang aku tulis dapat memberi inspirasi untuk semua orang yang sedang putus asa. Tuhan tidak pernah tidur dan selalu mendengar doa-doa hambanya. Maka percayalah padaNya*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar