Inget satu judul film Indonesia yang lagi nangkring di bioskop2 lokal. Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta. Cerita tentang dua orang yang lagi jatuh cinta. Tapi mereka lahir dari 2 keyakinan yang berbeda. Sang cewek adalah seorang kristian yang taat. Sdangkan sang cowok adalah anak dari seorang kiayi yang terhormat. Singkat cerita, cinta mereka terhalang oleh keluarga mereka masing2 yang lebih mengutamakan keyakinan mereka masng2. Sedangkan mereka sendiri, cukup bahagia dan saling toleransi dengan perbedaan yang mereka miliki.
Kadang aku mikir, apakah sebuah keyakinan yang berbeda itu harus menghalangi CINTA seseorang, atau dalam hal ini 2 orang? Lalu, untuk apa kita belajar toleransi dalam hidup? Jika mereka yang menjalani kehidupan itu bisa bahagia dengan perbedaan yang mereka miliki, dan mereka bisa menciptakan kerukunan, apakah kedua orang itu tetap tidak boleh dipersatukan? Apakah mereka harus menemukan seseorang yang memiliki persamaan dengan dirinya, tapi mereka harus berpura-pura bahagia untuk itu? Bukankah hidup ini penuh dengan perbedaan? Tapi Tuhan menciptakan perbedaan itu bukan untuk dipisah-pisahkan tapi untuk saling melengkapi bukan?
Oke, mungkin ga perlu jauh-jauh ngasih contoh. Aku dikelilingi oleh banyak perbedaan. Berbagai dunia. Berbagai keyakinan. Dan aku pernah menemui bagaimana orang-orang yang berbeda, bisa dipersatukan oleh Tuhan dalam ikatan Cinta. Ada yang gagal. Tapi ada juga yang bisa bersatu, hingga hanya maut yang bisa memisahkan mereka.
Waktu pertama kali aku masuk ekstrakulikuler di sekolah, aku kenal dengan satu pasangan yang romantis abis. Ternyata udah hampir dua tahun ini mereka jadian. Si cewek bener2 cantik dan yang cowok juga not bad. Dan yang bikin aku kagum, ternyata mereka beda keyakinan. Mungkin hal kayak gini ga terlalu absurd di kalangan masyarakat kita. Sekarang mah, orang bisa dengan gampangnya kawin (eh, nikah maksudnya) sama pasangan beda keyakinan mereka. Apalagi bagi mereka yang beruang. Tinggal pergi ke luar negeri, nikah, beres.
Tapi, mereka berdua beda (setidaknya menurutku). Toleransi yang mereka ciptakan itu yang bener2 bikin aku kagum. Contoh. Tiap hari jumat, di sekolahku ada kegiatan kerohanian buat umat kristen. Dan si cewek harus ikut. Sedangkan si cowok harus ikut sholat jumat.
“Sayang, kamu kok ga berangkat ke masjid? Udah adzan tuh…“
“Iya, Sayang… kamu kok juga belum ke kelas? Buruan gih.“
“Hem... aku duluan ya, Sayang...“
“Iyah, aku juga ke masjid dulu yah… Assalammualaikum”
Huwaaa… romantisnya. Tapi sayang, keluarga mereka agak kurang setuju. Padahal, sebenernya masing2 keluarga udah pada kenal dan udah pada sayang satu sama lain. Tapi mereka tetep mau mempertahankan keyakinan masing2. alhasil, mereka berdua harus pisah saat kuliah. Sayang banget emank, padahal kalo perbedaan itu bisa dipersatkan, segalanya pasti jadi jauh lebih indah.
Tapi ada juga, pasangan beda dunia lain yang bisa bertahan hingga akhirnya, hanya maut yang misahin mereka. Dan cerita ini ga jauh2 dari kalangan selebritis, toh agama, pejabat penting, dan yang lainnya. Cerita ini diciptakan oleh dua orang yang aku sayang. Dua orang yang ngerawat aku pas kecil kalo ortu lagi kerja. My Grandma & My Grandpa. Dari aku kecil, yang aku tahu mereka berdua adalah orang yang saling menyayangi satu sama lain. Walaupun berbeda keyakinan, mereka berdua saling menghormati keyakinan pasangan masing2. Mereka mau menerima kekurangan & kelebihan masing2. Dan setahu aku, mereka ga pernah bertengkar hebat. Sampai suatu hari, nenekku terserang penyakit stroke. Dan membuat setengah tubuhnya tidak berfungsi. Tapi, dengan sabar, kakekku merawat dan menjaga beliau. Di usianya yang senja itu, kakek masih mengantar nenek ke gereja tiap hari minggu dengan dibantu oleh satu orang pembantu. Aku jadi inget, dulu saat masih kecil aku sering diajak nenek ikut ke gerejanya. Ketemu pendeta nenek, temen2 nenek yang baik2. Dan ga jarang mereka juga ngasih aku hadiah, apalagi pas natal. Seneng banget.
Setelah 5 tahun bergumul dengan penyakitnya, akhirnya nenek harus menyerah. Dia kembali menghadap Tuhan Jesusnya. Nenek, aku dan salah satu sepupuku (kami adalah cucu yang paling dekat dengan nenek) punya kesamaan. Sama2 menyukai bunga anggrek. Dulu kami puya banyak anggrek. Tapi karena aku pindah rumah, ga ada lagi yang ngerawat, dan anggrek kami banyak disukai orang, perlahan2 banyak orang yang membeli anggrek2 kami. Makanya, hiasan peti, rangkaian bunga salib, dan rangkaian bunga tangan nenek, semua memakai anggrek.
Masih terukir jelas di kepalaku, bagaimana terakhir kali sebelum peti nenek ditutup untuk selamanya, kakek mencium kening nenek sambil berkata “aku akan segera meyusul”. Pas kakek ditanya ikhlas apa enggak nenek pergi, kakek cuma bilang, “iya, aku ikhlas. Mending gini, daripada nenekmu disiksa sakit. Kasihan”.
Setahun setelah nenek pergi, kakek jadi sakit-sakitan. Ada gumpalan cairan di otak kakek. Dan kakek hanya bisa bertahan beberapa bulan aja. Dan kakekpun menepati janjinya sama nenek untuk menyusul beliau. Bahkan beberapa bulan sebelum kritis, kakek pernah bercerita, kalau kakek diajak pergi nenek. Dan akhirnya kakek ikut pergi. Pergi untuk selamanya. Yang paling terilah jelas di raut wajah merea hanyalah senyum. Ga ada guratan kesakitan sama sekali. Hidup bersama selama 60 th dengan begitu banyak pebedaan ga menghalangi mereka untuk tetap saling mencintai.
Cinta itu tidak mengenal perbedaan. Entah itu kasta, usia, ras, tampang, dan agama sekalipun. Cinta itu ga pernah salah. Dan terkadang, justru Cinta yang bisa membuat perbedaan itu terasa semakin indah. Dan membuat kehidupan atau bahkan mati sekalipun, jadi ringan untuk dijalani…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar