Senin, 21 Februari 2011

B.R.A.D.A.N.A.Y.A

Setelah sukses dengan penuh perjuangan di masa SMA, sekarang aku udah jadi graduation. Alias udah lulus SMA. Hahahaha.... *evil laugh*
Well... title aku sekarang adalah seorang Mahasiswa / Mahasiswi (terserah deh mau panggil apa). Tepatnya, sekarang tempat yang harus aku coret2 dengan tinta kenanganku adalah Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga Surabaya (lengkap amat)

Oke, mungkin sebagian orang bakal bilang, “Wah... hebat ya bisa masuk Unair“
Tapi aku kok biasa aja ya ???
Mungkin karena ini bukan kampus impian aku. Tapi impian ortu. Sebenernya cuma ada 1 tempat yang paling aku impiin banget. Tapi mungkin takdir mengatakan bahwa saya harus mulai mencintai almamater baru saya ini.



Perjuangan buat masuk ke sini ??


****S.U.S.A.H****


Makanya, aku bersyukur masih bisa masuk. Setelah melalui banyak rintangan yang panjang, akhirnya aku resmi dikukuhkan sebagai mahasiswa baru oleh Rektor Unair.

Anyway, kalo denger kata MABA (Mahasiswa Baru) ga lengkap deh kalo ga cerita soal OSPEK.
Yah, ospek kami dilaksanakan selama ±2 minggu. Seminggu buat Pengenalan Universitas, yang isinya cuma dengerin seminar aja. 3 hari buat Pengenalan Fakultas, dan lagi2 isinya cuma dengerin seminar. Tapi, 2 hari terakhir.... inilah OSPEK yang sebenarnya.

Nama kegiatan kami waktu itu adalah BRADANAYA (maaf saya sendiri lupa kepanjangan dari bradanaya itu sendiri. Hehehehe). Hampir sama dengan OSPEK kebanyakan di tempat2 lain.

Dari 400++ MABA, kami dibagi ke dalam 30 kelompok. Masing2 kelompok terdiri dari 13 – 15 manusia. Aku masuk menjadi anggota dari kelompok (yang kurang beruntung) 28. nama kelompok kami adalah Hamengkubuwono. Dan trainer kami yang cantik nan imut (dan sepertinya sedang menjalin kedekatan dengan Presiden BEM FIB. Hehehehe *nggosip mode on*) berasal dari Sasindo ’09, bernama Thalita (ga pake Latief, tar dia GR). Para anggota Hamengkubuwono sendiri ada, Saya (yang amat imud sekali), Dodi, Adam, Aga, Sekar, Lila, Aries, Dini, Dwi, Icha, dan (maaf, 2 orang lainnya terlupakan oleh otak saya yang memang kemampuan mengingatnya amat sangat tidak beres).

Kami diwajibkan kompak dalam segala hal. Mulai dari name tag, sampul buku, pikiran, tingkah laku, dan lain sebagainya. Tapi kami menikmatinya. Walaupun kami harus pulang larut malam hanya demi mengerjakan tugas2 bradanaya yang setumpuk. Kami lakukan itu dengan suka cita, senang, walaupun ada kalanya kami saling berselisih tapi tidak mengurangi kekompakan kami.

D hari pertama bradanaya, belum ada sesuatu yang berkesan. Karena memang hanya seperti OSPEK pada umumnya. Hari kedua, kami diwajibkan mengirim 2 kandidat (cewcow) untuk pemilihan Duta Budaya. Dan saya (yang tidak beruntung) terpilih untuk ikut berpasangan dengan pasangan saya, Dodi Pradipta (Sasing ’10). Beruntunglah kami karena kami (tidak) menang. Karena bisa dipastikan, jika salah satu dari kami menang, akan ada bencana yang buruk menimpa fakultas tercinta kami ini. Hehehehe...

Selanjutnya, kami diharuskan membuat suatu pertunjukan bebas. Kami memilih untuk bernyanyi dan membuat satu buah lagu.

Dengan nada lagu Shaggy Dog – Di Syaidan

Hey kawan coba dengarlah kupunya crita
Tempat dimana kuberbagi rasa
Suka duka tinggi bersama
Di Airlangga fakultas Ilmu Budaya

Mari... Sini... berkumpul kawan
Belajar... Bersama... sambil berangan

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Airlangga
Belok kanan setelah perempatan
Teman-teman riang berkumpul di FIB

Di Airlangga... di FIB...
Belajar yang baik demi masa depan
Di Airlangga... di FIB...
Tempat orang kreatif berwawasan



Yah... lumayan lah. Setidaknya, kami mendapat predikat kelompok terkompak dari panitia. Hahahaha...
Di hari yang sama, kami juga disiksa *lebay* oleh Tim Dis. Mana Dekan kami ikut2an akting lagi. Bener2 cocok jadi Dekan Sastra. Kami dimarahi, dibentak, dan akhirnya, kami disiram dengan 1 truk tanki air (beneran 1 tanki) yang biasanya dibuat jual ’air prigen’ itu lho. Semua basah kuyup, ga cuma MABA, tapi senior juga. Apalagi yang paling jahat. Tapi, berhubung saya orangnya licik, pintar, dan cepat. Tubuh saya tidak menjadi basah. Kecuali pada akhirnya disiram pake air dawet sama si Dodi kampr*t.
Akhir acara, kami tutup dengan acara buka bersama. Lalu pulang kerumah masing2 untuk melanjutkan molor besoknya. Hahahaha...

Dua hari itu, kami merasa seperti saudara. Bahkan, sampai sekarang ketika kami saling bertemu, kami pasti bertegur sapa dan saling bertanya. Mungkin kami memang tidak menjadi pemenang dalam setiap lomba, tidak menjadi salah satu Duta Budaya, bukan tim terhebat, tapi kami merasa takdir mempertemukan kami dengan cara yang manis. Ini bukan akhir, tapi ini adalah awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar