Minggu, 14 Februari 2010

Cukup Kamu Di Hatiku Selamanya

** Cukup Kamu Tak Perlu Bintang Jatuh **

Ada banyak bintang di langit, semuanya bersinar, semuanya terang ...
Tapi cuma ada satu yang paling benderang, setidaknya menurut kata hatiku ...
Dan itu kamu, bukan dia atau mereka ...
Kamu, benar kamu ...
Kamu yang sempurna dalam kesederhanaanmu, yang selalu bikin aku nyaman di dekatmu tanpa harus menjadi orang lain, cukup menjadi diriku sendiri sebagaimana adanya tanpa perlu pura-pura agar kamu betah di sampingku ...

Senin, 01 Februari 2010

Mimpi

Akhir-akhir ini, aku semakin percaya dengan mimpi. Dan selalu ingin hidup selamanya di dunia itu.
Kata orang, lebih baik hidup di dunia nyata daripada di dunia mimpi. Walaupun kenyataan itu perih, tapi itu nyata, dan kita alami. Dan kita bisa memperbaikinya. Sedangkan, dunia mimpi itu memang indah. Tapi dunia itu hanya sementara. Indah tapi singkat. Dan ketika kamu terjaga nanti, kamu akan merasa sangat sedih. Karena semua kebahagiaan itu hanya bayanganmu saja. Hanya mimpi.
Buat apa kita selamanya hidup dalam dunia nyata yang menyakitkan itu? Buat apa kita harus mengalami keperihan itu? Bila dunia mimpi itu lebih indah? Kenapa tidak memilih untuk hidup disana saja? Kenapa harus memilih hidup di dunia yang menyakitkan itu?
Aku selalu berharap, aku bisa selamanya ada di dunia yang sementara itu. Berharap hidup disana dan tidak akan pernah terbangun lagi.
Aku suka berkhayal. Berimajinasi tentang hidup. Merencanakan dan membayangkan apa yang akan aku lakukan pada hidupku. Berkhayal tentang segalanya. Cita-cita, impian, cinta, keluarga, dan lain sebagainya. Segalanya yang tidak pernah bisa aku realisasikan di kehidupan nyata.
TUKANG BERKHAYAL…. Ya, itulah aku. Aku bahagia dengan semua khayalanku. Walaupun aku tahu, hidup yang kujalani tidak pernah sebahagia itu.
Kata orang, jadikan mimpimu sebagai kenyataan. Tuangkan khayalanmu diatas lembar-lembar perjalanan hidupmu.
Tapi, mimpi-mimpiku terlalu sempurna. Terlalu hebat untuk aku tuangkan dalam lembar-lembar kehidupanku. Paduan warnanya terlalu indah untuk digambarkan dalam kanvas kehidupanku. Dan alur ceritanya terlalu rumit untuk didongengkan sekalipun.
Setiap kali aku tidur, aku selalu memulai dengan merangkai cerita apa yang akan aku buat kali ini. Ada kalanya, aku berharap tidak pernah terjaga.
Tapi waktu itu seperti pedang yang ujungnya sengaja dihunuskan tepat di ulu hatiku. Terlalu tajam.
Detakan jam tiap detiknya seperti lonceng yang sengaja dibunyikan tepat di depan lubang telingaku. Terlalu nyaring.
Aku tidak mampu menghentikannya walaupun untuk sejenak. Atau paling tidak membuanya berjalan lambat.
Aku terpaksa harus terjaga dari mimpi indahku. Tersadar dari khayalanku. Dan menghentikan sejenak imajinasiku. Memakai kembali topengku dan mulai menjalani rutinitas realita yang memuakkan. Menunggu malam kembali datang hingga aku bisa bercumbu kembali dengan mimpi-mimpi yang selalu menungguku tanpa kenal lelah atau punya batas kesabaran. Membuka kembali topeng yang selalu kupakai dalam segala rutinitas yang benama realita itu.
Tapi mungkin Tuhan masih belum mengijinkanku untuk tinggal di dunia yang serba sempurna nan indah itu. Aku masih dibutuhkan di dunia yang bernama realita ini. Aku percaya semua rencana Tuhan padaku. Pada akhirnya nanti semua akan berakhir dengan indah.
Untuk sekarang, aku harus cukup puas dengan apa yang aku jalani sekarang……