Best friends forever .....
.............
Masih percaya?
I don’t think so . . .
Sebelumnya, aku masih bisa untuk percaya. Tapi setelah apa yang kualami sejauh ini, aku mulai ragu lagi. Sebelumnya, kami pernah membangun sebuah pondasi persahabatan yang (pada saat itu kami anggap) kokoh. Dilandasi dengan kebersamaan, kepercayaan, dan kesamaan antara yang satu dengan yang lain. Tapi, pada akhirnya pondasi yang kami bangun itu roboh juga. Hanya karena 1 hal. Intensitas pertemuan kami yang berkurang bahkan terkesan tidak ada lagi. Dan itu membuat kebersamaan yang selalu membuat orang lain iri itu akirnya menjadi hilang.
Aku mulai berkenalan dengan PERSAHABATAN sejak aku menjalani masa2 SD (yah maklum lah, anak TK gak akan ngerti apa2). Memiliki teman yang bisa memahami keadaan kita adalah suatu keberuntungan dan anugrah yang besar. Tapi sayangnya, kebersamaan itu hanya bertahan sampai kami meninggalkan sekolah. Setelah itu, hilanglah janji untuk selalu bersama antara kami . . .
Persahabatan selanjutnya yang kutemui disaat masa2 SMP. Tiga sahabat karib, selanjutnya berubah menjadi 7 sahabat karib. Dan sama seperti sebelumnya, hanya karena 4 sahabat laki-laki kami meninggalkan sekolah, kami tidak pernah saling bertemu lagi. Jangankan bertemu, menghubungi mereka, dan hanya sekedar ingin tahu bagaimana keadaan mereka pun tidak. Apalagi tragedi cerita CINTA ku yang putus di tengah jalan karena pacarku ternyata berselingkuh dengan sahabat karibku sendiri. Sakit memang, tapi kalau memang sudah jalannya, ya mau gimana lagi. Sekarang semua cerita tentang persahabatan itu musnah hilang sudah (lebai sekali).
Sejak saat itu, aku mulai ragu akan arti persahabatan. Aku lebih suka berteman dengan semua orang. Tanpa mengkhususkan salah satu, salah dua, atau salah banyak diantara mereka. Semua kuanggap biasa, TEMAN bukan SAHABAT.
Aku pun lebih suka sendiri. Menghadapi masalah sendiri, berbagi kebahagiaan sendiri. Gak ada yang namanya berbagi. Semua selalu sendiri (kecuali nyontek peer atau pas ulangan). Aku justru lebih suka mendengarkan cerita orang2 di sekitarku. Membiarkan mereka membagi kesedihan, masalah, dan kebahagiaannya bersamaku. Membiarkan mereka bercerita dan setidaknya dengan mendengarkan mereka, terkadang membuat perasaan mereka menjadi tenang dan terhibur. Aku memang gak bisa memberi saran atau nasihat yang bisa membuat masalah mereka selesei atau terpecahkan. Tapi aku hanya mampu mendengarkan dan menghibur mereka dengan kegilaan2 yang aku buat. Tingkah anehku yang bisa menghibur mereka dan membuat mereka tertawa. Tapi entah kenapa, aku senang melihat mereka tertawa diantara kesedihan yang mereka hadapi.
Salah seorang temanku pernah berkata, “Terkadang kita membutuhkan seseorang yang hanya mau mendengarkan dan memahami apa yang kita rasakan dan kita hadapi. Tanpa harus berkomentar dan memberikan saran apa2. Karena tidak semua orang bisa memberikan nasihat. Dan terkadang nasihat2 tidak diperlukan dalam sebuah persoalan”.
Tapi terkadang aku iri dengan mereka. Ketika mereka sedih atau punya masalah, mereka bisa menangis dengan lepas. Pengen rasanya. Sejak orang2 yang dekat denganku dan yang kusayangi mengkhianati aku, aku serasa lupa bagaimana rasanya menangis. Aku bukan orang yang dengan mudah bisa meneteskan air mata. Aku hanya mampu menangis dalam hati, tapi air mata gak mau keluar. Rasanya gak enak banget. Serasa semua beban numpuk.
Setelah lama aku mengurung diriku dalam kesendirian, disaat SMA aku mulai diperkenalkan lagi oleh persahabatan. Persahabatan yang (mungkin) sampai saat ini masih aku percaya. Mereka mulai menawarkan arti persahabatan tulus itu lagi. Menerobos relung kesendirianku dengan tawa, canda, keragaman, kebersamaan, ketulusan, dan senyum indah persahabatan mereka. Mereka yang mengajarkanku bahwa sahabat tak kenal kekayaan, fisik, tingkah laku, atau otak yang cerdas. Berbagi kesedihan, masalah, kebahagiaan bersama. Mereka yang membuat aku percaya bahwa persahabatan sejati itu masih ada.
Tapi seperti yang dulu, indah memang diawal dan selama kebersamaan itu berlangsung. Dan kami terpisah lagi. Terpisah oleh tembok2 yang dingin dan keras itu. Tapi masih dalam lantai yang sama dan atap yang sama. 6 orang yang lain ada dalam 1 ruangan yang sama, sedangkan 1 orang yang lain ada di ruangan yang berbeda. Dan aku sendiri pun ada di ujung ruangan lain yang berbeda.
Awalnya mungkin kami masih terlihat bersama, walaupun sudah menjadi hanya 5 orang yang bersama. Tapi sejalan dengan kesibukan kami masing2, kami mulai tidak pernah bersama lagi. Terkadang, aku melihat 4 orang sahabatku itu masih setia bersama. Sempat terbersit rasa iri. Melihat mereka tertawa bersama, bercerita satu dengan yang lain. Tapi kutepis perasaan itu jauh2. Aku harus bahagia melihat sahabatku bahagia.
Tapi lama-kelamaan, aku mulai amat sangat jauh dengan mereka. Ketika berada di antara mereka, aku jadi merasa asing. Tidak pernah mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan ketika aku ingin bercerita tentang keluh kesahku, mereka seperti tidak menyediakan waktu lagi untukku. Mereka hanya mendengarkan, tanpa memahami. Melihat, tapi tidak memandang. Aku selalu bertanya, ada apa dengan mereka??
Sampai kami bertemu lagi. Aku ada dalam satu ruangan yang sama dengan dua orang diantara mereka. Sedangkan dua yang lainnya ada di ruangan lain. Aku mulai berpikir optimis bahwa persahabatan kami bisa kembali lagi seperti dulu. Tapi rasa aneh itu kembali dating lagi. Aku benar2 sudah menjadi orang asing bagi mereka. BENAR-BENAR ASING. Aku mulai tidak memahami mereka. Apalagi ketika ada orang lain yang datang, aku serasa bukan bagian dari mereka lagi. Dulu aku orang yang paling mengenal dan mengerti mereka, sekarang aku jadi orang yang paling tidak mengerti mereka.
Foto2 yang dulu dipamerkan, yang mulanya ada kami ber-8, kami ber-5, dan akhirnya sekarang hanya ada mereka ber-4 saja. Tapi aku masih setia menyimpan senyum persahabatan itu. Dulu kami anggap kami adalah sahabat sejati, sekarang hanya mereka TRUE FRIENDS itu.
Jujur, aku kecewa sangat memang. Aku hanya kecewa, mereka yang dulu menawarkan, mengajarkan, menanamkan kembali kepercayaan bahwa sahabat sejati itu masih ada. Sekarang mereka juga yang menghancurkan semuanya. Sekarang aku mulai tidak percaya lagi dengan PERSAHABATAN. Tapi aku masih mencoba untuk intropeksi diri. Mungkin aku salah. Tapi aku tetap tidak menemukan apa kesalahanku. Bagaimanapun juga, intropeksi diri tidak harus dilakukan dengan bertanya pada diri sendiri kan? Aku tetap butuh orang lain untuk memberitahuku, Apa yang salah dengan aku? Apa salahku?
Teringat akan masa lalu yang kita lewati…
Terasa indah…
Sejuk meresap di dalam sanubari …
Walau duka sempat singgah…
Hadapi bersama…
Bahagia selalu dihatiku…
Kini hilanglah sudah kisah…
Tinggalah kenangan…
Saatnya luka…
Menghampirimu dengan segala janji…
Berikan sudah semua…
Atas nama cinta…
Hapuskan cerita kita…
Ingatkah kamu saat kita bersedih…
Ingatkah kamu saat kita bahagia…
Ingatkah kamu janji bersatu…
Demi kasih sayang kita …
Menempuh hari esok bersama…
Ingatkah Kamu by ASAP Band
Ingatkah kalian sahabat??
(T.T)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar