Love
Cinta itu seperti kupu-kupu. Tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang disaat kita tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih, tapi cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi, jangan terburu-buru dan pilih yang terbaik.
Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang ‘sempurna’ bagi seseorang. Jangan pernah bilang “I Love You” kalau kamu tidak peduli. Jangan pernah membicarakan persaan yang tidak pernah ada. Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya. Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya berbohong. Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya.
Cinta bukan “INI SALAH KAMU”, tapi “MAAFKAN AKU”. Bukan “KAMU DIMANA SIH?!” tapi “AKU DISINI”. Bukan “GIMANA SIH KAMU”, tapi “AKU NGERTI KOK”. Bukan “COBA KAMU GAK KAYAK GINI”, tapi “AKU CINTA KAMU APA ADANYA”.
Kompatilibilitas yang paling benar bukan diukur dari berapa lama atau berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama lain dan membuat hidup yang berkualitas.
Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu inginkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.
Cara jatuh cinta: Jatuh tapi jangan terhuyung-huyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak adil, mengerti dan mencoba untuk tidak banyak menuntut, sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan itu. Memang sakit melihat orang yang kita sayangi sedang berbahagia dengan orang lain tapi lebih sakit lagi kalau orang yang kamu sayangi tidak berbahagia bersama kamu.
Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang, lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihmu. Tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.
Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kamu dan kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk orang yang tidak pernah menghargainya. Kalau dia tidak “WORTH IT” sekarang, dia tidak akan pernah “WORTH IT” setahun lagi ataupun sepuluh tahun lagi. Biarkan dia pergi.......
(Karya seorang teman dan saya hanya bisa mengcopy paste saja. hahaha ...)
NB : Buat yang penulis asli, mav yah kalo karyanya tak publikasiin… hehehe
"Let's dance like no one is praising us. Let's sing like no one is listening us. Let's work like we don't need money for it. Let's love like we've never been hurt before. Let's life like there is no tomorrow". --annonimous--
Minggu, 11 Oktober 2009
Best Fiends Forever
.............
Best friends forever .....
.............
Masih percaya?
I don’t think so . . .
Sebelumnya, aku masih bisa untuk percaya. Tapi setelah apa yang kualami sejauh ini, aku mulai ragu lagi. Sebelumnya, kami pernah membangun sebuah pondasi persahabatan yang (pada saat itu kami anggap) kokoh. Dilandasi dengan kebersamaan, kepercayaan, dan kesamaan antara yang satu dengan yang lain. Tapi, pada akhirnya pondasi yang kami bangun itu roboh juga. Hanya karena 1 hal. Intensitas pertemuan kami yang berkurang bahkan terkesan tidak ada lagi. Dan itu membuat kebersamaan yang selalu membuat orang lain iri itu akirnya menjadi hilang.
Aku mulai berkenalan dengan PERSAHABATAN sejak aku menjalani masa2 SD (yah maklum lah, anak TK gak akan ngerti apa2). Memiliki teman yang bisa memahami keadaan kita adalah suatu keberuntungan dan anugrah yang besar. Tapi sayangnya, kebersamaan itu hanya bertahan sampai kami meninggalkan sekolah. Setelah itu, hilanglah janji untuk selalu bersama antara kami . . .
Persahabatan selanjutnya yang kutemui disaat masa2 SMP. Tiga sahabat karib, selanjutnya berubah menjadi 7 sahabat karib. Dan sama seperti sebelumnya, hanya karena 4 sahabat laki-laki kami meninggalkan sekolah, kami tidak pernah saling bertemu lagi. Jangankan bertemu, menghubungi mereka, dan hanya sekedar ingin tahu bagaimana keadaan mereka pun tidak. Apalagi tragedi cerita CINTA ku yang putus di tengah jalan karena pacarku ternyata berselingkuh dengan sahabat karibku sendiri. Sakit memang, tapi kalau memang sudah jalannya, ya mau gimana lagi. Sekarang semua cerita tentang persahabatan itu musnah hilang sudah (lebai sekali).
Sejak saat itu, aku mulai ragu akan arti persahabatan. Aku lebih suka berteman dengan semua orang. Tanpa mengkhususkan salah satu, salah dua, atau salah banyak diantara mereka. Semua kuanggap biasa, TEMAN bukan SAHABAT.
Aku pun lebih suka sendiri. Menghadapi masalah sendiri, berbagi kebahagiaan sendiri. Gak ada yang namanya berbagi. Semua selalu sendiri (kecuali nyontek peer atau pas ulangan). Aku justru lebih suka mendengarkan cerita orang2 di sekitarku. Membiarkan mereka membagi kesedihan, masalah, dan kebahagiaannya bersamaku. Membiarkan mereka bercerita dan setidaknya dengan mendengarkan mereka, terkadang membuat perasaan mereka menjadi tenang dan terhibur. Aku memang gak bisa memberi saran atau nasihat yang bisa membuat masalah mereka selesei atau terpecahkan. Tapi aku hanya mampu mendengarkan dan menghibur mereka dengan kegilaan2 yang aku buat. Tingkah anehku yang bisa menghibur mereka dan membuat mereka tertawa. Tapi entah kenapa, aku senang melihat mereka tertawa diantara kesedihan yang mereka hadapi.
Salah seorang temanku pernah berkata, “Terkadang kita membutuhkan seseorang yang hanya mau mendengarkan dan memahami apa yang kita rasakan dan kita hadapi. Tanpa harus berkomentar dan memberikan saran apa2. Karena tidak semua orang bisa memberikan nasihat. Dan terkadang nasihat2 tidak diperlukan dalam sebuah persoalan”.
Tapi terkadang aku iri dengan mereka. Ketika mereka sedih atau punya masalah, mereka bisa menangis dengan lepas. Pengen rasanya. Sejak orang2 yang dekat denganku dan yang kusayangi mengkhianati aku, aku serasa lupa bagaimana rasanya menangis. Aku bukan orang yang dengan mudah bisa meneteskan air mata. Aku hanya mampu menangis dalam hati, tapi air mata gak mau keluar. Rasanya gak enak banget. Serasa semua beban numpuk.
Setelah lama aku mengurung diriku dalam kesendirian, disaat SMA aku mulai diperkenalkan lagi oleh persahabatan. Persahabatan yang (mungkin) sampai saat ini masih aku percaya. Mereka mulai menawarkan arti persahabatan tulus itu lagi. Menerobos relung kesendirianku dengan tawa, canda, keragaman, kebersamaan, ketulusan, dan senyum indah persahabatan mereka. Mereka yang mengajarkanku bahwa sahabat tak kenal kekayaan, fisik, tingkah laku, atau otak yang cerdas. Berbagi kesedihan, masalah, kebahagiaan bersama. Mereka yang membuat aku percaya bahwa persahabatan sejati itu masih ada.
Tapi seperti yang dulu, indah memang diawal dan selama kebersamaan itu berlangsung. Dan kami terpisah lagi. Terpisah oleh tembok2 yang dingin dan keras itu. Tapi masih dalam lantai yang sama dan atap yang sama. 6 orang yang lain ada dalam 1 ruangan yang sama, sedangkan 1 orang yang lain ada di ruangan yang berbeda. Dan aku sendiri pun ada di ujung ruangan lain yang berbeda.
Awalnya mungkin kami masih terlihat bersama, walaupun sudah menjadi hanya 5 orang yang bersama. Tapi sejalan dengan kesibukan kami masing2, kami mulai tidak pernah bersama lagi. Terkadang, aku melihat 4 orang sahabatku itu masih setia bersama. Sempat terbersit rasa iri. Melihat mereka tertawa bersama, bercerita satu dengan yang lain. Tapi kutepis perasaan itu jauh2. Aku harus bahagia melihat sahabatku bahagia.
Tapi lama-kelamaan, aku mulai amat sangat jauh dengan mereka. Ketika berada di antara mereka, aku jadi merasa asing. Tidak pernah mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan ketika aku ingin bercerita tentang keluh kesahku, mereka seperti tidak menyediakan waktu lagi untukku. Mereka hanya mendengarkan, tanpa memahami. Melihat, tapi tidak memandang. Aku selalu bertanya, ada apa dengan mereka??
Sampai kami bertemu lagi. Aku ada dalam satu ruangan yang sama dengan dua orang diantara mereka. Sedangkan dua yang lainnya ada di ruangan lain. Aku mulai berpikir optimis bahwa persahabatan kami bisa kembali lagi seperti dulu. Tapi rasa aneh itu kembali dating lagi. Aku benar2 sudah menjadi orang asing bagi mereka. BENAR-BENAR ASING. Aku mulai tidak memahami mereka. Apalagi ketika ada orang lain yang datang, aku serasa bukan bagian dari mereka lagi. Dulu aku orang yang paling mengenal dan mengerti mereka, sekarang aku jadi orang yang paling tidak mengerti mereka.
Foto2 yang dulu dipamerkan, yang mulanya ada kami ber-8, kami ber-5, dan akhirnya sekarang hanya ada mereka ber-4 saja. Tapi aku masih setia menyimpan senyum persahabatan itu. Dulu kami anggap kami adalah sahabat sejati, sekarang hanya mereka TRUE FRIENDS itu.
Jujur, aku kecewa sangat memang. Aku hanya kecewa, mereka yang dulu menawarkan, mengajarkan, menanamkan kembali kepercayaan bahwa sahabat sejati itu masih ada. Sekarang mereka juga yang menghancurkan semuanya. Sekarang aku mulai tidak percaya lagi dengan PERSAHABATAN. Tapi aku masih mencoba untuk intropeksi diri. Mungkin aku salah. Tapi aku tetap tidak menemukan apa kesalahanku. Bagaimanapun juga, intropeksi diri tidak harus dilakukan dengan bertanya pada diri sendiri kan? Aku tetap butuh orang lain untuk memberitahuku, Apa yang salah dengan aku? Apa salahku?
Teringat akan masa lalu yang kita lewati…
Terasa indah…
Sejuk meresap di dalam sanubari …
Walau duka sempat singgah…
Hadapi bersama…
Bahagia selalu dihatiku…
Kini hilanglah sudah kisah…
Tinggalah kenangan…
Saatnya luka…
Menghampirimu dengan segala janji…
Berikan sudah semua…
Atas nama cinta…
Hapuskan cerita kita…
Ingatkah kamu saat kita bersedih…
Ingatkah kamu saat kita bahagia…
Ingatkah kamu janji bersatu…
Demi kasih sayang kita …
Menempuh hari esok bersama…
Ingatkah Kamu by ASAP Band
Ingatkah kalian sahabat??
(T.T)
Best friends forever .....
.............
Masih percaya?
I don’t think so . . .
Sebelumnya, aku masih bisa untuk percaya. Tapi setelah apa yang kualami sejauh ini, aku mulai ragu lagi. Sebelumnya, kami pernah membangun sebuah pondasi persahabatan yang (pada saat itu kami anggap) kokoh. Dilandasi dengan kebersamaan, kepercayaan, dan kesamaan antara yang satu dengan yang lain. Tapi, pada akhirnya pondasi yang kami bangun itu roboh juga. Hanya karena 1 hal. Intensitas pertemuan kami yang berkurang bahkan terkesan tidak ada lagi. Dan itu membuat kebersamaan yang selalu membuat orang lain iri itu akirnya menjadi hilang.
Aku mulai berkenalan dengan PERSAHABATAN sejak aku menjalani masa2 SD (yah maklum lah, anak TK gak akan ngerti apa2). Memiliki teman yang bisa memahami keadaan kita adalah suatu keberuntungan dan anugrah yang besar. Tapi sayangnya, kebersamaan itu hanya bertahan sampai kami meninggalkan sekolah. Setelah itu, hilanglah janji untuk selalu bersama antara kami . . .
Persahabatan selanjutnya yang kutemui disaat masa2 SMP. Tiga sahabat karib, selanjutnya berubah menjadi 7 sahabat karib. Dan sama seperti sebelumnya, hanya karena 4 sahabat laki-laki kami meninggalkan sekolah, kami tidak pernah saling bertemu lagi. Jangankan bertemu, menghubungi mereka, dan hanya sekedar ingin tahu bagaimana keadaan mereka pun tidak. Apalagi tragedi cerita CINTA ku yang putus di tengah jalan karena pacarku ternyata berselingkuh dengan sahabat karibku sendiri. Sakit memang, tapi kalau memang sudah jalannya, ya mau gimana lagi. Sekarang semua cerita tentang persahabatan itu musnah hilang sudah (lebai sekali).
Sejak saat itu, aku mulai ragu akan arti persahabatan. Aku lebih suka berteman dengan semua orang. Tanpa mengkhususkan salah satu, salah dua, atau salah banyak diantara mereka. Semua kuanggap biasa, TEMAN bukan SAHABAT.
Aku pun lebih suka sendiri. Menghadapi masalah sendiri, berbagi kebahagiaan sendiri. Gak ada yang namanya berbagi. Semua selalu sendiri (kecuali nyontek peer atau pas ulangan). Aku justru lebih suka mendengarkan cerita orang2 di sekitarku. Membiarkan mereka membagi kesedihan, masalah, dan kebahagiaannya bersamaku. Membiarkan mereka bercerita dan setidaknya dengan mendengarkan mereka, terkadang membuat perasaan mereka menjadi tenang dan terhibur. Aku memang gak bisa memberi saran atau nasihat yang bisa membuat masalah mereka selesei atau terpecahkan. Tapi aku hanya mampu mendengarkan dan menghibur mereka dengan kegilaan2 yang aku buat. Tingkah anehku yang bisa menghibur mereka dan membuat mereka tertawa. Tapi entah kenapa, aku senang melihat mereka tertawa diantara kesedihan yang mereka hadapi.
Salah seorang temanku pernah berkata, “Terkadang kita membutuhkan seseorang yang hanya mau mendengarkan dan memahami apa yang kita rasakan dan kita hadapi. Tanpa harus berkomentar dan memberikan saran apa2. Karena tidak semua orang bisa memberikan nasihat. Dan terkadang nasihat2 tidak diperlukan dalam sebuah persoalan”.
Tapi terkadang aku iri dengan mereka. Ketika mereka sedih atau punya masalah, mereka bisa menangis dengan lepas. Pengen rasanya. Sejak orang2 yang dekat denganku dan yang kusayangi mengkhianati aku, aku serasa lupa bagaimana rasanya menangis. Aku bukan orang yang dengan mudah bisa meneteskan air mata. Aku hanya mampu menangis dalam hati, tapi air mata gak mau keluar. Rasanya gak enak banget. Serasa semua beban numpuk.
Setelah lama aku mengurung diriku dalam kesendirian, disaat SMA aku mulai diperkenalkan lagi oleh persahabatan. Persahabatan yang (mungkin) sampai saat ini masih aku percaya. Mereka mulai menawarkan arti persahabatan tulus itu lagi. Menerobos relung kesendirianku dengan tawa, canda, keragaman, kebersamaan, ketulusan, dan senyum indah persahabatan mereka. Mereka yang mengajarkanku bahwa sahabat tak kenal kekayaan, fisik, tingkah laku, atau otak yang cerdas. Berbagi kesedihan, masalah, kebahagiaan bersama. Mereka yang membuat aku percaya bahwa persahabatan sejati itu masih ada.
Tapi seperti yang dulu, indah memang diawal dan selama kebersamaan itu berlangsung. Dan kami terpisah lagi. Terpisah oleh tembok2 yang dingin dan keras itu. Tapi masih dalam lantai yang sama dan atap yang sama. 6 orang yang lain ada dalam 1 ruangan yang sama, sedangkan 1 orang yang lain ada di ruangan yang berbeda. Dan aku sendiri pun ada di ujung ruangan lain yang berbeda.
Awalnya mungkin kami masih terlihat bersama, walaupun sudah menjadi hanya 5 orang yang bersama. Tapi sejalan dengan kesibukan kami masing2, kami mulai tidak pernah bersama lagi. Terkadang, aku melihat 4 orang sahabatku itu masih setia bersama. Sempat terbersit rasa iri. Melihat mereka tertawa bersama, bercerita satu dengan yang lain. Tapi kutepis perasaan itu jauh2. Aku harus bahagia melihat sahabatku bahagia.
Tapi lama-kelamaan, aku mulai amat sangat jauh dengan mereka. Ketika berada di antara mereka, aku jadi merasa asing. Tidak pernah mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan ketika aku ingin bercerita tentang keluh kesahku, mereka seperti tidak menyediakan waktu lagi untukku. Mereka hanya mendengarkan, tanpa memahami. Melihat, tapi tidak memandang. Aku selalu bertanya, ada apa dengan mereka??
Sampai kami bertemu lagi. Aku ada dalam satu ruangan yang sama dengan dua orang diantara mereka. Sedangkan dua yang lainnya ada di ruangan lain. Aku mulai berpikir optimis bahwa persahabatan kami bisa kembali lagi seperti dulu. Tapi rasa aneh itu kembali dating lagi. Aku benar2 sudah menjadi orang asing bagi mereka. BENAR-BENAR ASING. Aku mulai tidak memahami mereka. Apalagi ketika ada orang lain yang datang, aku serasa bukan bagian dari mereka lagi. Dulu aku orang yang paling mengenal dan mengerti mereka, sekarang aku jadi orang yang paling tidak mengerti mereka.
Foto2 yang dulu dipamerkan, yang mulanya ada kami ber-8, kami ber-5, dan akhirnya sekarang hanya ada mereka ber-4 saja. Tapi aku masih setia menyimpan senyum persahabatan itu. Dulu kami anggap kami adalah sahabat sejati, sekarang hanya mereka TRUE FRIENDS itu.
Jujur, aku kecewa sangat memang. Aku hanya kecewa, mereka yang dulu menawarkan, mengajarkan, menanamkan kembali kepercayaan bahwa sahabat sejati itu masih ada. Sekarang mereka juga yang menghancurkan semuanya. Sekarang aku mulai tidak percaya lagi dengan PERSAHABATAN. Tapi aku masih mencoba untuk intropeksi diri. Mungkin aku salah. Tapi aku tetap tidak menemukan apa kesalahanku. Bagaimanapun juga, intropeksi diri tidak harus dilakukan dengan bertanya pada diri sendiri kan? Aku tetap butuh orang lain untuk memberitahuku, Apa yang salah dengan aku? Apa salahku?
Teringat akan masa lalu yang kita lewati…
Terasa indah…
Sejuk meresap di dalam sanubari …
Walau duka sempat singgah…
Hadapi bersama…
Bahagia selalu dihatiku…
Kini hilanglah sudah kisah…
Tinggalah kenangan…
Saatnya luka…
Menghampirimu dengan segala janji…
Berikan sudah semua…
Atas nama cinta…
Hapuskan cerita kita…
Ingatkah kamu saat kita bersedih…
Ingatkah kamu saat kita bahagia…
Ingatkah kamu janji bersatu…
Demi kasih sayang kita …
Menempuh hari esok bersama…
Ingatkah Kamu by ASAP Band
Ingatkah kalian sahabat??
(T.T)
Sabtu, 03 Oktober 2009
Cerita Pertamaku
Setelah lama bikin blog, baru sekarang aku bisa posting (kasep parah yah??)..
Hahaha ...
Biarlah ..
Okey..
This is about me ..
My full name is Novarina Martalia Kusumawati
(kata orang namaku ngalah2hin panjangnya gerbong kereta api, padahal kalo diukur ya jelas masih panjangan kereta. Lagian, banyak juga kok yang namanya bisa lebih panjang daripada aku)
Nick name : You can call me Nova (tapi ada beberapa orang yang manggil aku Nopha atau Miss)
Aku lahir dengan selamat dari kandungan Ibuku tersayang di Surabaya(tepatnya aku ga tahu, di rumah sakit maybe asal jangan di kandang sapi ja) pada hari Selasa, 24 Maret 1992 tepat pada pukul 11.00 Siang ..(apa gara2 aku lahirnya siang ya? makanya sekarang aku item.. nasib..)
Aku 2 bersaudara ..
Kakakku cowok. His name is Nobika Mirda Rindianto. selisih 2 tahun diatasku. Kakak yang ga tinggal bareng ma aku sejak lahir. Baru pas dia kelas 1 SMP dan tepatnya pas kami sekeluarga pindah ke Sidoarjo, kami tinggal bersama. Sekarang dia udah kuliah. awalnya dia kuliah di UPN Surabaya jurusan Managemen (maklum, pas SMA dia anak IPS). Baru nginjak semester 3, dia coba2 ikut SNPTN. Dan alhasil, dia keterima di UNEJ (Universitas Negeri Jember) jurusan Administrasi Niaga. Lucky banget tu anak.
Okey, lupakan dia. Back to me ..
Aku tinggal bersama keluarga kecilku yang penuh warna (kadang2 bahagia, kadang2 da masalah. Yah namanya juga hidup) di sebuah rumah sederhana di kawasan Perumahan di Sidoarjo. Sebenarnya rumahku cukup strategis da jalan utama. Cuma masuk gang kira2 100 Meter lah (tapi banyak yang bilang kalo rumahku KAMSOTOK alias Kampung Ndeso Plosok Notok). Di rumah itu, aku menghabiskan hari2ku yang penuh warna dari kelas 5 SD sampai sekarang.
Aku punya hobby yang beragam. karna pada dasarnya aku orang yang moody. Jadi kalo kamu tanya, "apa hobby kamu?" aku akan bilang "hmmm.. apa yah?? macem2". Tapi keluargaku paling suka kalo diajak jalan2. Tapi bukan MAL. Lebih suka nyari tempat yang keren. Dan biasanya ada unsur alam, sejarah, atau pengetahuan (bangsa2nya museum, TMII, monumen, gunung, pantai, air terjun, dll). Travelling dah pokoknya. Makanya aku dan kakakku ikut ekskul di sekolah yang da hubungannya ma itu. Ga salah kalo dia ikut Pecinta Alam dan aku sendiri ikut Pramuka. Tapi, aku punya hobby yang paling aku suka, BERKHAYAL. Yah, berhayal dan menggunakan imajinasiku untuk digabungkan dengan mimpi.
Sekarang aku berusia 17 tahun, dan aku sedang menjalani masa2 penuh warnaku sebagai seorang siswa SMA. Okey, sekarang aku baru sadar, masa SMA emang masa yang ga bisa dilupain. Hari2 kujalani saja dengan semangat (kadang juga ga semangat sih) dan senyum (lebih mirip ketawa ga jelas sebenernya). Sekarang aku sedang menikmati masa2 indahku bersama seseorang yang bisa buat aku bahagia.
Ya..
Pacarku..
Dia orang yang amat sangat berbeda yang pernah kutemui. Awalnya, aku emang ga seberapa suka. Karna gayanya yang sok Cool (hehe.. maaf yah??). Tapi, ya yang namanya suka, sapa yang bisa tahu. Dia orang yang super jahil, suka resek kadang2, tapi perhatian, enak diajak curhat, cerdas, sabar (tapi pas marah nyeremin), bijaksana, dan banyaklah pokoknya. Dan aku seneng bisa ma dia. Aku bukan orang romantis emang, tapi yang pasti yang aku tahu, AISHITERU ....
Kalo diinget2 aku pacaran baru 2 kali ini. Pertama kels 1 SMP (wah.. cimon bgt) dan putus gara2 dia selingkuh (anak SMP udah jago selingkuh yah?). Dan selama 4 tahun aku jomblo, baru sekarang aku bisa (lebih tepatnya baru berani) Pacaran lagi.
Sekarang kami sedang bersama2 memikirkan masa depan kami. Mau kemana ya setelah SMA nanti?
Semua orang tahu, dari kecil aku bermimpi selalu ingin jadi seorang DOKTER. Dan impianku itu masih ada samapi aku kelas 1 SMA. Tapi, setelah menjalani masa2 anak kelas 1 SMA, aku tahu ternyata potensiku bukan di IPA (yang basicnya adalah untuk menjadi seorang dokter). Tapi aku lebih menyukai BAHASA. Tepatnya Jepang. Apapun tentang Jepang aku suka. Negaranya, keindahan alamnya, orang2nya, kebudayaannya, teknologinya, lagu2nya, filmnya, animasinya. Makanya waktu penjurusan, aku milih Bahasa. Tapi nasib, ortu ga setuju. Mereka keukeuh maksa aku masuk IPA. Akhirnya aku barter dengan mereka. SMA aku di IPA, tapi kuliah aku masuk B. Jepang. Okey, deal. Kesepakatan dicapai. Sekarang aku cari2 info tentang Universitas yang ada Bahasa Jepangnya (entah itu sastra, atau pendidikannya). Walaupun aku belum terlalu tahu seluk beluk Jepang, tapi aku suka. Dan aku bisa belajar kan ...
Dia, sejauh yang aku tahu (ya, setelah dia cerita ke aku) dia punya mimpi ingin masuk Informatika ITS. Tapi, da beberapa kekhawatiran yang lagi dihadepin. Pernah dia bilang, dia gamang akan masa depannya, tapi aku percaya, dia pasti bisa.
^^
At last..
Yah.. this is me..
Cewek sederhana yang ga terlalu cantik, ga terlalu cerdas, tapi punya banyak mimpi dan harapan. Aku memang bukan seorang penulis yang bisa merangkai kata2 indah yang bisa dinikmati atau dibaca. Tapi, ya inilah ceritaku.
This is me . . .
Hahaha ...
Biarlah ..
Okey..
This is about me ..
My full name is Novarina Martalia Kusumawati
(kata orang namaku ngalah2hin panjangnya gerbong kereta api, padahal kalo diukur ya jelas masih panjangan kereta. Lagian, banyak juga kok yang namanya bisa lebih panjang daripada aku)
Nick name : You can call me Nova (tapi ada beberapa orang yang manggil aku Nopha atau Miss)
Aku lahir dengan selamat dari kandungan Ibuku tersayang di Surabaya(tepatnya aku ga tahu, di rumah sakit maybe asal jangan di kandang sapi ja) pada hari Selasa, 24 Maret 1992 tepat pada pukul 11.00 Siang ..(apa gara2 aku lahirnya siang ya? makanya sekarang aku item.. nasib..)
Aku 2 bersaudara ..
Kakakku cowok. His name is Nobika Mirda Rindianto. selisih 2 tahun diatasku. Kakak yang ga tinggal bareng ma aku sejak lahir. Baru pas dia kelas 1 SMP dan tepatnya pas kami sekeluarga pindah ke Sidoarjo, kami tinggal bersama. Sekarang dia udah kuliah. awalnya dia kuliah di UPN Surabaya jurusan Managemen (maklum, pas SMA dia anak IPS). Baru nginjak semester 3, dia coba2 ikut SNPTN. Dan alhasil, dia keterima di UNEJ (Universitas Negeri Jember) jurusan Administrasi Niaga. Lucky banget tu anak.
Okey, lupakan dia. Back to me ..
Aku tinggal bersama keluarga kecilku yang penuh warna (kadang2 bahagia, kadang2 da masalah. Yah namanya juga hidup) di sebuah rumah sederhana di kawasan Perumahan di Sidoarjo. Sebenarnya rumahku cukup strategis da jalan utama. Cuma masuk gang kira2 100 Meter lah (tapi banyak yang bilang kalo rumahku KAMSOTOK alias Kampung Ndeso Plosok Notok). Di rumah itu, aku menghabiskan hari2ku yang penuh warna dari kelas 5 SD sampai sekarang.
Aku punya hobby yang beragam. karna pada dasarnya aku orang yang moody. Jadi kalo kamu tanya, "apa hobby kamu?" aku akan bilang "hmmm.. apa yah?? macem2". Tapi keluargaku paling suka kalo diajak jalan2. Tapi bukan MAL. Lebih suka nyari tempat yang keren. Dan biasanya ada unsur alam, sejarah, atau pengetahuan (bangsa2nya museum, TMII, monumen, gunung, pantai, air terjun, dll). Travelling dah pokoknya. Makanya aku dan kakakku ikut ekskul di sekolah yang da hubungannya ma itu. Ga salah kalo dia ikut Pecinta Alam dan aku sendiri ikut Pramuka. Tapi, aku punya hobby yang paling aku suka, BERKHAYAL. Yah, berhayal dan menggunakan imajinasiku untuk digabungkan dengan mimpi.
Sekarang aku berusia 17 tahun, dan aku sedang menjalani masa2 penuh warnaku sebagai seorang siswa SMA. Okey, sekarang aku baru sadar, masa SMA emang masa yang ga bisa dilupain. Hari2 kujalani saja dengan semangat (kadang juga ga semangat sih) dan senyum (lebih mirip ketawa ga jelas sebenernya). Sekarang aku sedang menikmati masa2 indahku bersama seseorang yang bisa buat aku bahagia.
Ya..
Pacarku..
Dia orang yang amat sangat berbeda yang pernah kutemui. Awalnya, aku emang ga seberapa suka. Karna gayanya yang sok Cool (hehe.. maaf yah??). Tapi, ya yang namanya suka, sapa yang bisa tahu. Dia orang yang super jahil, suka resek kadang2, tapi perhatian, enak diajak curhat, cerdas, sabar (tapi pas marah nyeremin), bijaksana, dan banyaklah pokoknya. Dan aku seneng bisa ma dia. Aku bukan orang romantis emang, tapi yang pasti yang aku tahu, AISHITERU ....
Kalo diinget2 aku pacaran baru 2 kali ini. Pertama kels 1 SMP (wah.. cimon bgt) dan putus gara2 dia selingkuh (anak SMP udah jago selingkuh yah?). Dan selama 4 tahun aku jomblo, baru sekarang aku bisa (lebih tepatnya baru berani) Pacaran lagi.
Sekarang kami sedang bersama2 memikirkan masa depan kami. Mau kemana ya setelah SMA nanti?
Semua orang tahu, dari kecil aku bermimpi selalu ingin jadi seorang DOKTER. Dan impianku itu masih ada samapi aku kelas 1 SMA. Tapi, setelah menjalani masa2 anak kelas 1 SMA, aku tahu ternyata potensiku bukan di IPA (yang basicnya adalah untuk menjadi seorang dokter). Tapi aku lebih menyukai BAHASA. Tepatnya Jepang. Apapun tentang Jepang aku suka. Negaranya, keindahan alamnya, orang2nya, kebudayaannya, teknologinya, lagu2nya, filmnya, animasinya. Makanya waktu penjurusan, aku milih Bahasa. Tapi nasib, ortu ga setuju. Mereka keukeuh maksa aku masuk IPA. Akhirnya aku barter dengan mereka. SMA aku di IPA, tapi kuliah aku masuk B. Jepang. Okey, deal. Kesepakatan dicapai. Sekarang aku cari2 info tentang Universitas yang ada Bahasa Jepangnya (entah itu sastra, atau pendidikannya). Walaupun aku belum terlalu tahu seluk beluk Jepang, tapi aku suka. Dan aku bisa belajar kan ...
Dia, sejauh yang aku tahu (ya, setelah dia cerita ke aku) dia punya mimpi ingin masuk Informatika ITS. Tapi, da beberapa kekhawatiran yang lagi dihadepin. Pernah dia bilang, dia gamang akan masa depannya, tapi aku percaya, dia pasti bisa.
^^
At last..
Yah.. this is me..
Cewek sederhana yang ga terlalu cantik, ga terlalu cerdas, tapi punya banyak mimpi dan harapan. Aku memang bukan seorang penulis yang bisa merangkai kata2 indah yang bisa dinikmati atau dibaca. Tapi, ya inilah ceritaku.
This is me . . .
Langganan:
Komentar (Atom)